Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan

Biografi Nano S.

Nano Suratno
Lahir di Garut, Jawa Barat, 4 April 1944. Karena minatnya yang besar kepada musik karawitan, setelah lulus SMP, melanjutkan ke Konservatori Karawitan (Kokar) di Bandung (1961) . Setelah tamat, ia mengajar di SMP 1 Bandung dan kemudian pindah ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI). Beberapa tahun kemudian melanjutkan kuliah ke Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung dan STSI Jurusan Karawitan Sunda sampai selesai.
Tahun 1964, bergabung dengan kelompok Ganda Mekar pimpinan Mang Koko, namun beberapa tahun kemudian mendirikan kelompok sendiri yang diberi nama Gentra Madya (1972). Banyak menciptakan lagu karawitan Sunda, di awal masih memperlihatkan pengaruh gurunya, Mang Koko, tetapi kemudian mulai memperlihatkan cirinya sendiri..
Jika Mang Koko, gurunya, mengkritik berbagai ketidakberesan dalam masyarakat, Nano juga, tetapi di samping itu seakan-akan menertetawakan diri sendiri, yang sering terjebak dalam situasi yang lucu. Cara ini dibawakannya dalam pergelaran yang disebut Prakpilingkung (keprak, kacapi, suling, angklung). Hasilnya, pada Festival Komponis Muda Indonesia 1 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (1979), komposisinya, Sang Kuriang mendapat perhatian sebagai komposisi yang sarat dengan kekuatan akar etnis karawitan Sunda yang penuh inovasi pengembangan.
Pernah mendapat beasiswa fellowship dari The Japan Foundation selama setahun di Tokyo Gedai (Universitas Kesenian Tokyo), untuk mempelajari perbandingan tangga nada Sunda dan Jepang, terutama antara alam musik Kecapi dan Koto. Selain itu, ia juga belajar meniup Sakuhachi dan memetik Shamisen, yang kemudian membuat kolaborasi alat-alat itu pada ciptaannya dan membuat beberapa lagu karawitan Sunda yang berbahasa Jepang, diantaranya Katakana Hiragana Uta, Ueno Koen dan D'enshano Uta (1981-1982). Pernah di undang oleh departemen musik Universitas Santa Cruz untuk mengajar dan membuat pergelaran dalam Spring Performance (1990).
Keprofesionalannya dalam dalam kesenian Sunda semakin terbukti ketika ia di minta oleh Min on, impresario, sebuah kelompok kesenian Jepang yang besar, untuk mengadakan pertunjukan kesenian Sunda di berbagai kota di seluruh Jepang selama 40 hari dengan 22 kali pertunjukan. Pertunjukan ini mendapat sambutan antusias karena keindahan yang di tampilkan dengan disiplin yang tinggi (1988). Pertunjukan itu dimintaa untuk diulang lagi berkali-kali untuk tampil dikota-kota lain.
Popularitasnya semakin menanjak setelah album-album rekaman kasetnya banyak diminati oleh masyarakat, diantara Kalangkang (Bayangan 1989), Cinta Ketok Magic (1992), yang meledak di pasaran sehingga mendapat HDX Award tingkat Nasional. Meskipun lagu-lagu ciptaannya berjenis karawitan, namun dengan cepat memperoleh penggemar di seluruh Indonesia, bukan hanya dari kalangan orang sunda saja, apalagi setelah lagu-lagu itu dijadikan pop Sunda. Selain itu, Ia juga membuat lagu untuk Gending Karesmen bersama Wahyu Wibisana, Raf, dll. Gending Karesmen ciptaannya antara lain Deugdeug Pati Jaya Perang, Raja Kecit, 1 Syawal di Alam Kubur, Perang, dll.
Ia juga dikenal sebagai penulis sajak dan cerita pendek berbahasa Sunda. Karyanya pernah di muat dalam majalah Mangle, Hanjuang, dll. Cerita pendeknya dikumpulkan dengan judul Nu Baralik Manggung (Yang Pulang sehabis mengadakan pertunjukan). Ia juga menyusun Buku Kawih untuk bahan pelajaran di Sekolah Menengah dengan judul Haleuang Tandang (1976).
Negara-negara yang pernah dikunjunginya untuk mengadakan pertunjukan antara lain Jepang, Hongkong, Philipina, Belanda, Australia, Amerika Serikat, dll. Pada bulan Oktober 1999, di Jepang, ia memainkan lagu ciptaannya yang berjudul Hiroshima”yang dibuat khusus untuk memenuhi permintaan Walikota Hiroshima yang mengenalnya sebagai pencipta lagu. Diangkat menjadi Kepala Taman Budaya Propinsi Jawa Barat sejak 1995 sampai pensiun (2000).


READMORE
 

Bapak Angklung "Daeng Sutigna"

Mendengar nama Angklung yang terlintas dipikiran kita mungkin adalah alat musik tradisional sunda yang tebuat dari bambu dan dimainkan dengan cara digoyang atau Saung Angklung Udjo,tak salah memang bila kita berpikiran seperti itu,tapi tahukah siapakah tokoh angklung selain (alm) mang udjo yang kita kenal dengan saung angklung udjonya ..?
Angklung yang kita kenal sekarang kebanyakan yang bernada Diatonis (do re mi) dan hal tersebut adalah kreasi dari seorang Daeng Sutigna yang mungkin kita tidak tahu siapa beliau. Beliau bernama lengkap Mas Daeng Sutigna kelahiran Garut tgl 13 Mei 1908.Nama panggilan kecilnya adalah oetig lalu saat masuk asrama/sekolah biasa dipanggil encle.  Memang sejak kecil beliau memang menggemari Angklung dan setelah lulus dari Kweekschool (1928), Daeng mengajar di Schakel School Cianjur, Jawa Barat (1928-1932), lalu pindah mengajar di HIS Kuningan (1932-1942). Pada saat mengajar di Kuningan inilah ia mempelajari seluk beluk angklung secara lebih mendalam.
Daeng Sutigna

Untuk nama "Daeng" sendiri,biasanya kan dipakai oleh orang makasar atau orang Bugis.Sebenarnya Nama “Daeng” mempunyai riwayatnya tersendiri. Ayahnya mempunyai seorang sahabat dari Makasar yang bergelar Daeng. Daeng dari Makassar ini sangat pandai. Ketika itu ibunya sedang mengandung dan ayahnya berkata bahwa, “Kalau anak yang dilahirkan laki-laki akan diberi nama Daeng, agar pandai seperti sahabatnya itu”. Ketika ibunya benar-benar melahirkan bayi laki-laki, maka bayi itu diberi nama Daeng Sutigna; nama Daeng diambil dari nama seorang sahabat ayahnya yang orang Makassar itu.
Awal mula hati beliau tergerak untuk membuat angklung adalah saat dua orang pengemis datang kerumahnya di Kuningan tahun 1938 dan memainkan angklung pentatonis (da mi na ti la da). Bunyi angklung tersebut membuat hatinya tergetar dan membeli angklung pentatonis tersebut. Ketika angklung pentatonis itu ada di tangannya, pikiranya mulai bekerja dan ingin membuat angklung diatonis. Namun, secara teknis tidak bisa membuat angklung. Untuk mengatasi persoalannya,beliau belajar kepada pakar angklung bernama Djaya.
Setelah bisa membuat angklung,lalu beliau pun berupaya membuat angklung yang bertangga nada diatonis. Bekalnya membuat angklung diatonis berawal dari kepiawaiannya menguasai beberapa alat musik yang berasal dari Barat, seperti gitar dan juga piano.
Daeng Sutigna menganggap angklung diatonis lebih komunikatif untuk diajarkan kepada anak-anak. Kalau angklung tradisional merupakan angklung renteng yang dimainkan oleh seorang saja, maka angklung yang dibuat olehnya dimainkan secara bersama, setiap orang memegang angklung yang membunyikan hanya satu nada saja, harmoni tercapai dengan kerjasama yang rapih
Pada awalnya, permainan angkung ciptaannya hanya dikenal di kalangan anak-anak Pramuka di Kuningan. Selanjutnya, setelah angklung diatonis dikenal di kalangan Pramuka sebagai alat musik yang menyenangkan, akhirnya permainan musik angklung diatonis bisa diterima dan diajarkan di sekolah.
Mendapatkan kesempatan memainkan angklung ciptaannya dalam forum Perundingan Linggarjati pada 12 November 1946, yang saat itu dihadari banyak tokoh asing, baik dari Belanda maupun pihak-pihak lainnya. kembali diminta Presiden Soekarno untuk memainkan pertunjukan angklung tersebut di Istana Negara, Jakarta, dalam acara perpisahan dengan Laksamana Lord Louis Mounbatten, Panglima Tentara Sekutu untuk Asia Tenggara, yang juga hadir dalam acara Perundingan Linggar Jati.
Pada tahun 1955 dalam kesempatan acara Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka, Bandung. Daeng Sutigna juga diminta membuat konser angklung yang dikreasinya itu. Sejak itu, angklung diatonisnya sering di pertunjukan dalam acara-acara resmi, seperti dalam World Fair di New York, Amerika Serikat (1964), dimana ia memimpin pertunjukan kesenian termasuk angklung di paviliun Indonesia selama 8 bulan. Dilanjutkan dengan mengadakan pertunjukan di Belanda dan Perancis. Tahun 1967, ia mengadakan pertunjukan muhibah berkeliling di berbagai kota di Malaysia.Dan Kita pun sekarang patut berbangga karena angklung telah terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Budaya Bangsa pada tahun 2010 lalu dan tak terlepas dari jasa beliau.
Atas jasa-jasanya mengembangkan musik angklung, Daeng Sutigna, yang pernah mendapat tugas belajar Colombo Plan ke Australia (1955-1956) ini, mendapat piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Barat (1966), piagam penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta (1968) Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Soeharto (1968), Anugerah Bintang Budaya Parama Dharma (2007) dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional dari Jawa Barat dalam bidang seni dan budaya. Daeng Sutigna wafat di Bandung 8 April 1984 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan,Cikutra,Bandung.
Makam Daeng Sutigna di Taman Makam Pahlawan,Bandung.
Dari berbagai sumber
READMORE