Tampilkan postingan dengan label IPS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPS. Tampilkan semua postingan

Materi HAM (Hak Asasi Manusia)



A. Definisi HAM
     Hak yang diberikan langsung oleh Tuhan sebagai hak kodrat.
B. Ciri-ciri HAM
     1. HAM tidak perlu diberikan, diwarisi, karena datang secara otomatis
     2. HAM untuk semua orang tanpa membedakan agama dan asal-usul
     3. HAM tidak bisa dilanggar walau sebuah negara tidak mencantumkannya
C. Macam-macam HAM
     1. Hak pribadi(personal right) ; memilih agama, menikah
     2. Hak ekonomi(property right) ; bkerja, membuka lapangan kerja
     3. Hak dalam hukum(equality before the law) ; mendapat perlindungan
     4. Hak asasi politik ; membentuk parpol
     5. Hak asasi sosial dan budaya ; melestarikan budaya, mendapat pendidikan
     6. Hak asasi peradilan ; menyewa pengacara
D. Sejarah HAM
     1. Magna Charta 1215, Inggris : penyerahan hak-hak raja terhadap bangsawan
     2. Bill of Rights (UU Hak 1689) : Equality Before the Law
     3. Pernyataan HAM dan warga negara 1759, Perancis
         - Tata cara penangkapan
         - Asas praduga tidak bersalah
         - The rule of law (negara hukum)
     4. Kebebasan yang dikemukakan  F.D Roosevelt
         - Kebebasan berbicara
         - Kebebasan beragama
         - Kebebasan dari rasa takut
         - Kebebasan dari kemiskinan
      5. Universal Declaration of Human Right (PBB)
READMORE
 

Paham-paham yang Mendasari Munculnya Pergerakan Nasional

1. Nasionalisme
    Perasaan cinta terhadap bangsa dan tanah airnya, perasaan itu timbul karena adanya kesamaan sejarah, agama, bahasa kebudayaan, pemerintah, tempat tinggal dan keinginan untuk mempertahankan seta mengembangkannya sebagai milik bersama.
2. Liberalisme
    Munculnya kesadaran berbangsa dan bernegara untuk menentukan nasib sendiri dalam bingkai keberadaan penyelenggara negara
3. Sosialisme 
    Paham yang menekankan perhatian pada masyarakat secara keseluruhan
4. Pan-Islamisme
    Suatu paham yang menginginkan manifestasi dari prinsip islam mengenai persatuan dan kesatuan antar unat islam seluruh dunia.
5. Demokrasi
     Suatu pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, untuk raakyat.
READMORE
 

Ringkasan Kekuasaan Eropa di Indonesia

A. Kekuasaan Perancis di Indonesia Masa Gubernur Jendral Daendels
     Daendels memiliki tugas utama mempertahankan pulau jawa dari serangan Inggris, untuk itu perhatian utama Daendels adalah dibidang pertahanan misalnya:
1. Membangun jalan anyer-panarukan yang panjangnya +- 1.100 km. Tujuannya untuk melancarkan mobilitas militer dipulau jawa dan untuk mengangkut hasil pertanian.
2. Melaksanakan sistem kerha rodi
3. Membangun angkatan perang
4. Mencampuri urusan intern kerajaan-kerajaan di Indonesia dan mempengaruhi raja-raja.
5. Menjalankan sistem pemerintahan diktator agar rakyat tidak melawan
6. Mencari keuntungan besar melalui perdagangan budak

B. Kekuasaan Inggris di Indonesia
     Pada saat Inggris menguasai Indonesia mereka mengangkat Sir Thomas Stamford Raffles, beliau melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Membagi pulau jawa menjadi 16 karasiden
2. Mengurai kekuasaan bupati dengan mengangkat bupati sebagai pegawai pemerintahan
3. Menghilangkan kerja rodi
4. Menghapus pelayaran hongi model VOC
5. Melarang perbudakan karena tidak sesuai dengan semangat liberalisme
6. Menghapus upeti
7. Memungut sewa tanah sebab tanah dianggap milik negara
8. Melaksanakan sistem penjurian dalam peradilan
     Raffles juga banyak berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan, yaitu:
1. Meneliti tumbuhan dan menamai bunga temuannya Rafflesia Arnoldi 
2. Membangun kebun raya bogor yang berisi tanaman tropis Indonesia
3. Menulis Buku History of Java yang berisi sejarah orang jawa

C. Kekuasaan Belanda di Indonesia

     Ketentuan-ketentuan sistem tanam paksa yang di berlakukan pemerintahan Belanda, yaitu:
1. Seperlima tanah milik rakyat yang subur wajib dijadikan lahan pertanian ekspor
2. Tanah tersebut dibebaskan dari kewajiban pajak.
3. Hasil panenen diserahkan kepada Belanda
4. Apabila taksiran harga melebihi pajak, maka kelebihannya menjadi milik rakyat
5. Kegagalan panen ditanggung oleh pemerintah
6. Tenaga kerja yang digunakan tidak boleh melebihi tenaga kerja padi
     Ketentuan yang di langgar:
1. Tanah yang dijadikan lahan tanam ekspor yaitu seluruhnya
2. Lahan tanaman ekspor tetap dipungut pajak
3. Kegagalan panen ditanggung sendiri
4. Kelebihian taksiran menjadi milik pemerintah Belanda
5. Tenaga yang digunakan melebihi tenaga padi

D. Pengaruh Pemberlakuan Tanam Paksa
     Harga pokok hasil pertanian tanam paksa sangat rendah, padahal harga jualnya sangat tinggi. Akibatnya kerajaan Belanda menjadi negara kaya, membuat rakyat Indonesia sangat menderita dan kelaparan. Sebagian waktu mereka mengurus tanaman ekspor, sedangkan tanaman padi mereka terlantar. Petani Indonesia mengenal jenis tanaman baru unggulan yang jadi komoditas ekspor.

E. Pengaruh Kolonialisme dan Imperalisme Terhadap Bangsa Indonesia
1. Bidang politik
2. Bidang ekonomi
3. Bidang sosial
4. Bidang budaya
READMORE
 

Ringkasan VOC di Indonesia

A. Tujuan VOC ke Indonesia
      Tujuan dibentuknya VOC selain untuk menghndari persaingan diantara pedagang-pedagang Belanda sendiri. Juga bertujuan menyaingi kongsi dagang Inggris yang sudah terlebih dahulu ada yaiti EIC. Tujuan VOC diantara lain menguasai perlabuhan-pelabuhan penting di Indonesia, menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia dan memonopoli rempah-rempah.
        Untuk mencapai tuhuan tersebut VOC melakukan politik adu domba. Untuk mendukung keberdaan VOC, parlemen Belanda memberi hak oktrooi, yaitu:
1. Hak memonopoli perdagangan di wilayah antara Asia dan Afrika
2. Hak memiliki angkatan perang dan membangun benteng pertahanan
3. Hak mengadakan perang dan menjajah
4. Hak sebagai wakil pemerintahan Belanda di Indonesia
5. Hak untuk mengikat perjanjian dengan raja-raja di Indonesia
6. Hak untuk mengangkat pegawai
7. Hak ubtuk mencetak dan mengedarkan uang sendiri
8. Hak untuk memungut pajak

B. Berakhirnya VOC
1. Banyak pegawai VOC korupsi
2. Wilayah Indonesia yang luas memerlukan biaya yang cukup besar untuk mengelolanya
3. Biaya perang dalam melawan rakyat Indonesia
4. Persaingan dengan kongsi dagang lain.
        Akhirnya VOC memiliki hutang sebesar 136 juta gulden dan tidak sanggup membayarnya dan pada tanggal 31 Desember 1779 VOC resmi dibubarkan.
READMORE
 

Ringkasan Faktor-Faktor Kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia

1. Perang Salib
- Keinginan bangsa eropa untuk membantu Spanyol melalui wilayahnya yang jatuh ketangan Arab.
- Semangat bangsa Erpa merebut kota Jerusalem atas dorongan Paus Urbanus II.
-Keinginan Paus Urbanus II untuk menyatukan kembal gereja katolik di bawah roma
2. Perkembangan ilmu pengetahuan
3. Penjelajahna samudera
- adanya keinginan untuk memiliki kekayaan (gold)
- adanya keunanan mencari kekuasaan dan kejayaan.(glory)
- penyebaran agama nasrani(gospel)
READMORE
 

ULANGAN IPS/GEOGRAFI SMP VII (FORMATIF 1)

1. Proses sosialisasi adalah proses pendidikan atau latihan seseorang yang belum berpengetahuan dalam suatu kebudayaan belajar dan berusaha menguasai kebudayaan sebagai aspek perilakunya adalah pendapat dari….
    a.       Laurance
    b.      Guire
    c.       Lawang Robert
    d.      Krath Wohl

2. Suatu proses pembentukan sikap atau perilaku seseorang anak sesuai dengan perilaku atau norma. Norma dalam kelompok atau keluarga disebut…
    a.       Proses
    b.      Sosialisasi
    c.       Nilai
    d.      Norma

3. Proses sosialisasi yang diterapkan di lingkungan keluarga disebut proses sosialisasi…
    a.       Komplek
    b.      Tersier
    c.       Sekunder
    d.      Primer


Silahkan download untuk lebih lanjut...
READMORE
 

ULANGAN HARIAN SMP VII SEJARAH (FORMATIF 1)

1. Bangsa Arya tiba di India pada tahun….
    a.       1400 SM
    b.      1300 SM
    c.       1500 SM
    d.      1600 SM

2. Petani, buruh kecil dan budak tergolong pada…
    a.       Ksatria
    b.      Brahmana
    c.       Waisya
    d.      Sudra

3. Memuja banyak dewa disebut juga…
    a.       Polytheisme
    b.      Dinamisme
    c.       Atheisme
    d.      Animisme

Silahkan download untuk soal lengkap nya...


S
READMORE
 

Sejarah Kerajaan Demak

Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam terbesar di pantai utara Jawa ("Pasisir"). Menurut tradisi Jawa, Demak sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) dari kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kerajaan Demak tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Demak beralih ke Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir. Salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang menurut tradisi didirikan oleh Walisongo. Lokasi ibukota Kerajaan Demak, yang pada masa itu masih dapat dilayari dari laut dan dinamakan Bintara (dibaca "Bintoro" dalam bahasa Jawa), saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. Periode ketika beribukota di sana kadang-kadang dikenal sebagai "Demak Bintara". Pada masa raja ke-4 ibukota dipindahkan ke "Prawata" (dibaca "Prawoto").

v  Cikal-bakal

Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling serang, saling mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit.
Demak didirikan di perapat terakhir abad ke-15, kemungkinan besar oleh seorang Tionghoa Muslim bernama Cek Ko-po[. Kemungkinan besar puteranya adalah orang yang oleh Tomé Pires dalam Suma Oriental-nya dijuluki "Pate Rodim", mungkin dimaksudkan "Badruddin" atau "Kamaruddin" dan meninggal sekitar tahun 1504. Putera atau adik Rodim, yang bernama Trenggana bertahta dari tahun 1505 sampai 1518, kemudian dari tahun 1521 sampai 1546. Di antara kedua masa ini yang bertahta adalah iparnya, raja Yunus dari Jepara.
Tradisi Jawa menceritakan bahwa pada masa itu, arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo, Ki Ageng Pengging mendapat dukungan dari Syekh Siti Jenar.

v  Raden Patah
Raden  Patah  adalah  putra  Brawijaya V dengan  putri  dari Campa. Oleh karena itu, setelah takhta ayahnya jatuh ke tangan Girindrawardhana dari Keling (Daha), Demak  pun  terancam. Akibatnya,  terjadi peperangan antara  Demak dan  Majapahit  pimpinan  Girindrawardhana dan  keturunannya yang bernama Prabu Udara hingga tahun 1518. Kerajaan Demak menang  dan berdiri sebagai kerajaan Islam terbesar di Jawa (1518). Sejak saat itu Kearajaan Demak berkembang menjadi besar dan menguasai jalur perdagangan di Indonesia. Wilayah kekuasaan Demak cukup luas, hampir meliputi sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Sementara itu, daerah pengaruhnya sampai  ke luar Jawa,  seperti  ke Palembang, Jambi,  Banjar, dan Maluku.


v  Pati Unus
Pada tahun 1507 Raden Patah digantikan oleh putranya, Pati Unus. Sebelum menduduki  takhta,  Pati  Unus  pada  tahun  1513 pernah memimpin  armada laut Kerajaan Demak menyerang Portugis di Malaka. Namun,  usaha  Pati Unus tersebut belum berhasil. Sekembalinya dari Malaka atas keberaniannya Pati Unus mendapat sebutan  Pangeran Sabrang  Lor.
Setelah  Pati Unus naik takhta,  ia tidak mencoba  lagi menyerang Malaka, tetapi tetap memperkuat pertahanan lautnya agar Portugis tidak masuk ke Jawa. Sikap permusuhan Kerajaan Demak terhadap Portugis ternyata  merugikan  Portugis dan Pelabuhan  Malaka. Hal itu disebabkan  Demak tidak lagi mengirimkan  barang dagangannya ke Malaka. Pedagang dari negara  lain juga enggan  datang ke Pelabuhan  Malaka. Pati Unus mangkat pada tahun 1521 dan takhtanya digantikan oleh adiknya, Trenggana.

v  Sultan Trenggana
Setelah naik takhta, Sultan Trenggana melakukan usaha besar membendung masuknya  Portugis  ke Jawa  Barat.  Pada  tahun  1522 Gubernur  Portugis  di Malaka,  Jorge  d’Albuquerque  telah  mengirimkan  utusan  bernama Henrique Leme kepada  Raja Samiam di Sunda Kelapa. Utusan itu diterima baik, bahkan Portugis diberi izin untuk mendirikan  kantor  dagang  di Sunda  Kelapa.
Berdasarkan  data itu, Sultan Trenggana segera mengutus Faletehan (Fatahillah) beserta pasukannya untuk menduduki Jawa Barat. Tujuannya adalah agar  Portugis  tidak dapat  menguasai  wilayah Sunda  Kelapa.  Faletehan  yang berasal dari Pasai merupakan seorang  ulama dan panglima militer yang cakap. Dengan  semangat juang yang tinggi, Banten  dapat ditaklukkan dan berhasil dikuasai seluruhnya pada tahun 1527. Sunda Kelapa kemudian menyusul jatuh ke tangan umat Islam. Tentara  Portugis yang baru tiba dari Malaka dan akan memberi bantuan kepada Raja Sunda dapat dihancurkan  pula. Atas kemenangan itu, nama  Sunda  Kelapa  diubah menjadi Jayakarta. Setelah  itu, menyusul Cirebon dapat dikuasai pada tahun 1528. Dengan  demikian, seluruh pantai utara Jawa, mulai dari Banten sampai dengan Gresik tunduk kepada pemerintahan Kerajaan Demak. Atas jasanya yang besar itu, Faletehan  diangkat menjadi raja di Cirebon.
Pasukan Demak terus bergerak ke daerah pedalaman dan berhasil menundukkan Pajang dan Mataram. Setelah itu, Madura jatuh ke dalam kekuasaan  Demak. Untuk memperkuat kedudukannya, putri Sultan Trenggana dinikahkan dengan Pangeran Langgar, Bupati Madura. Selanjutnya, Mas Karebet atau Jaka  Tingkir, putra  Bupati Pengging  diambil menantu Sultan Trenggana dan diangkat  menjadi Bupati Pajang.  Jaka  Tingkir setelah  berkuasa  di Pajang bergelar Hadiwijaya. Cara itulah yang disebut perkawinan  politik.
Pada  saat  yang  bersamaan, di Jawa  Timur  sedang  berkembang sebuah kota pelabuhan dan pusat perdagangan, yaitu Pasuruan. Kota itu mengadakan hubungan  dagang  dengan  Bali, pulau-pulau  di Indonesia  bagian  tengah  dan timur,  serta  Portugis.  Hal itu jelas dianggap  menyaingi  Demak.  Oleh  karena itu, Sultan Trenggana memimpin sendiri pasukannya ke Pasuruan untuk menaklukannya. Terjadilah pertempuran hebat yang akhirnya menewaskan Sultan Trenggana pada tahun 1546. Setelah rajanya mangkat,  pasukan Kerajaan Demak patah semangat dan seluruh pasukan ditarik mundur kembali ke Demak. Dalam sejarah Demak, Sultan Trenggana adalah raja terbesar. Sultan Trenggana cakap, menguasai  sistem birokrasi pemerintahan dan strategi militer, serta memiliki pandangan jauh ke depan.
Mangkatnya  Sultan Trenggana menimbulkan kekacauan  politik yang hebat di Kerajaan Demak.  Negara  bagian  (kadipaten) banyak  yang melepaskan diri dan tidak mengakui  lagi kekuasaan  pemerintahan pusat  di Kerajaan Demak.  Para  ahli waris di Kerajaan Demak juga saling berebut takhta sehingga  timbul perang  saudara  yang hebat. Bupati Jipang,  Aria Penangsang, memberontak. Aria Penangsang merasa lebih berhak mewarisi takhta. Seandainya ayahnya, Pangeran Sekar Seda Lepen, (kakak Trenggana)  tidak dibunuh  oleh  Pangeran Prawata  (putra  Sultan  Trenggana), tentu ia telah menjadi Sultan Demak. Oleh karena itu, Pangeran Prawata dibunuhnya. Suami Ratu Kalinyamat, Pangeran Hadiri (adik Pangeran Prawata) juga dibunuh. Situasi politik bertambah kacau sehingga para bangsawan Demak menyingkir ke Jepara di bawah pimpinan Ratu Kalinyamat (cucu Raden Patah). Mereka bersumpah akan menuntut balas kepada  Aria Penangsang.
Kendali kekuasaan  Demak dipegang  oleh Aria Penangsang yang berkedudukan di Jipang. Ratu Kalinyamat kemudian bekerja sama dengan Bupati Pajang,  Hadiwijaya (Jaka Tingkir) untuk menyingkirkan  Aria Penangsang. Dengan pasukan yang kuat dan tipu daya yang tepat, mereka berhasil menggagalkan pemberontakan Aria Penangsang yang akhirnya dibunuh oleh Hadiwijaya.

v  Kemunduran

Suksesi ke tangan Sunan Prawoto tidak berlangsung mulus. Ia ditentang oleh adik Trenggana, yaitu Pangeran Sekar Seda Lepen. Pangeran Sekar Seda Lepen akhirnya terbunuh. Pada tahun 1561 Sunan Prawoto beserta keluarganya "dihabisi" oleh suruhan Arya Penangsang, putera Pangeran Sekar Seda Lepen. Arya Penangsang kemudian menjadi penguasa tahta Demak. Suruhan Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri adipati Jepara, dan hal ini menyebabkan banyak adipati memusuhi Arya Penangsang.
Arya Penangsang akhirnya berhasil dibunuh dalam peperangan oleh Sutawijaya, anak angkat Joko Tingkir. Joko Tingkir memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang, dan di sana ia mendirikan Kerajaan Pajang.
READMORE
 

Kesultanan Tidore

                                            

Tidore adalah sebuah nama pulau yang terletak di sebelah barat Pulau Halmahera dan di sebelah selatan Pulau Ternate. Raja atau kolano pertama yang menggunakan gelar Sultan di Tidore adalah Caliati atau Jamaluddin yang memerintah pada tahun 1495 hingga 1512. Sebelumnya tidak terdapat catatan sejarah siapa kolano yang berkuasa sebelum Caliati. Namun sejarawan Belanda F.S.A. de Clerq mencatat pada tahun 1334 Tidore dipimpin oleh seseorang yang bernama Hasan Syah. Dari nama kolano dan gelar sultan yang digunakan di wilayah Tidore nampaknya pengaruh Islam telah tersebar disana secara luas.
Kesultanan Tidore merupakan satu dari empat kerajaan besar yang berada di Maluku, tiga lainnya adalah Ternate, Jaijolo dan Bacan. Namun hanya Tidore dan Ternate-lah yang memiliki ketahanan politik, ekonomi dan militer. Keduanya pun bersifat ekspansionis, Ternate menguasai wilayah barat Maluku sedangkan Tidore mengarah ke timur dimana wilayahnya meliputi Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Maba, Patani, Seram Timur, Rarakit, Werinamatu, Ulisiwa, Kepulauan Raja Empat, Papua daratan dan sekitarnya.
Sultan kedua Tidore adalah Almansur yang naik takhta pada tahun 1512 dan kemudian ia menetapkan Mareku sebagai pusat pemerintahan. Ia adalah Sultan yang menerima kedatangan Spanyol di Tidore untuk beraliansi secara strategis sebagai jawaban atas aliansi yang dibangun oleh Ternate dan Portugis. Spanyol tiba di Tidore pada tanggal 8 November 1521, turut serta dalam rombongan kapal armada Magellan, Pigafetta, seorang etnolog dan sejarawan Italia.
Sultan Almansur memberikan tempat bagi Spanyol untuk melakukan perdagangan di Tidore. Sepotong kain merah ditukar dengan cengkih satu bahar (550 pon), 50 pasang gunting dengan satu bokor cengkih, tiga buah gong dengan dua bokor cengkih. Dengan cepat cengkih di seluruh Tidore ludes, sehingga harus dicari di tempat lain seperti Moti, Makian dan Bacan. Demikianlah kerjasama antara Tidore dan Spanyol semakin berkembang, tidak hanya di bidang perekonomian tetapi juga di bidang militer.
Pada tahun 1524, didasari persaingan ekonomi berupa penguasaan wilayah perdagangan rempah-rempah, pasukan gabungan Ternate dan Portugis yang berjumlah 600 orang menyerbu Tidore dan berhasil masuk ke ibukota Mareku. Hal yang menarik adalah, meski serangan gabungan tersebut mencapai ibukota Tidore, mereka tidak dapat menguasai Tidore sepenuhnya dan berhasil dipukul mundur beberapa waktu kemudian. Dua tahun berikutnya (1526) Sultan Almansur wafat tanpa meninggalkan pengganti.
Kegagalan serangan tersebut berujung dilakukannya perjanjian Zaragosa antara Raja Portugis, John III dan Raja Spanyol, Charles V pada tahun 1529. Dengan imbalan sebesar 350.000 ducats, Charles V bersedia melepaskan klaimnya atas Maluku, namun demikian hal tersebut tidak serta merta menyebabkan seluruh armada Spanyol keluar dari Maluku.
Pada tahun yang sama dengan Perjanjian Zaragosa, putera bungsu Almansur, Amiruddin Iskandar Zulkarnaen, dilantik sebagai Sultan Tidore dengan dibantu oleh Kaicil Rade seorang bangsawan tinggi Kesultanan Tidore sebagai Mangkubumi. Dimasanya terjadi tribulasi, ketika Gubernur Portugis di Ternate, Antonio Galvao, memutuskan untuk kembali meyerang Tidore. Pasukan Portugis mendapatkan kemenangan atas Tidore pada tanggal 21 Desember 1536 dan mengakibatkan Tidore harus menjual seluruh rempah-rempahnya kepada Portugis dengan imbalan Portugis akan meninggalkan Tidore.
Pada tahun 1547, Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnaen wafat dan digantikan oleh Sultan Saifuddin, demikian pula tongkat estafet kesultanan berikutnya, berturut-turut Kie Mansur, Iskandar Gani dan Gapi Baguna hingga tahun 1599. Pada era tersebut tidak terjadi sesuatu yang luar biasa di Kesultanan Tidore, kecuali pada tahun 1578 Portugis membangun Benteng “Dos Reis Mogos” di Tidore. Namun demikian benteng tersebut tidak mencampuri urusan internal kesultanan.
Kejadian penting lainnya yang patut dicatat adalah terjadinya unifikasi kekuatan Portugis dan Spanyol di Maluku di bawah pimpinan Raja Spanyol pada tahun 1580. Sehingga demikian semua benteng Portugis dan Spanyol di seluruh kepulauan Maluku dapat digunakan oleh kedua belah pihak.
Unifikasi ini sebenarnya didahului oleh kejadian sebelumnya, yaitu penaklukan benteng Portugis-Gamlamo di Ternate oleh Sultan Babullah, Sultan Ternate terbesar, pada tanggal 26 Desember 1575. Menyerahnya Gubernur Portugis terakhir di Maluku, Nuno Pareira de Lacerda, menunjukkan berakhirnya kekuasaan Portugis di Nusantara. Hal ini mengakibatkan mau tidak mau armada perang Portugis membentuk persekutuan dengan Spanyol di kepulauan Maluku.
Pada tanggal 26 Maret 1606, Gubernur Jenderal Spanyol di Manila, Don Pedro da Cunha, mulai membaca gerak-gerik VOC-Belanda memperluas wilayah dagangnya hingga Maluku. Karena merasa terancam dengan kehadiran armada dagang VOC-Belanda yang mulai menjalin kerjasama dengan Kesultanan Ternate, ia memimpin pasukan menggempur Benteng Gamlamo tentu saja dengan bantuan dari Tidore yang pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Mole Majimu.
Spanyol berhasil menguasai Benteng Gamlamo di Ternate, tetapi tidak lama setelah itu VOC Belanda berhasil pula membuat benteng yang kemudian disebut sebagai “Fort Oranje” pada tahun 1607 di sebelah timur laut Benteng Gamlamo serta membangun garis demarkasi militer dengan Spanyol. Paulus van Carden ditujuk sebagai Gubernur Belanda pertama di Kepulauan Maluku.
Ketika Sultan Tidore ke 12 memerintah yaitu Sultan Saifudin, pada tahun 1663 secara mengejutkan Spanyol menarik seluruh kekuatannya dari Ternate, Tidore dan Siau yang berada di Sulawesi Utara ke Filipina. Gubernur Jenderal Spanyol yang berada Manila, Manrique de Lara, membutuhkan semua kekuatan untuk mempertahankan Manila dari serangan bajak laut Cina, Coxeng. Gubernur Spanyol di Maluku, Don Francisco de Atienza Ibanez, nampak meninggalkan kepulauan Maluku pada bulan Juni 1663. Maka berakhirlah kekuasaan Spanyol di Kepulauan Maluku.
Dengan tiadanya dukungan militer dari Spanyol, otomatis kekuatan Tidore melemah dan VOC-Belanda menjadi kekuatan militer terbesar satu-satunya di kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah itu. Akhirnya Sultan Saifudin kemudian melakukan perjanjian dengan Laksamana Speelman dari VOC-Belanda pada tanggal 13 Maret 1667 yang mana isinya adalah : (1) VOC mengakui hak-hak dan kedaulatan Kesultanan Tidore atas Kepulauan Raja Empat dan Papua daratan (2) Kesultanan Tidore memberikan hak monopoli perdagangan rempah-rempah dalam wilayahnya kepada VOC.
Batavia kemudian mengeluarkan Ordinansi untuk Tidore yang membatasi produksi cengkeh dan pala hanya pada Kepulauan Banda dan Ambon. Di luar wilayah ini semua pohon rempah diperintahkan untuk dibasmi. Pohon-pohon rempah yang ‘berlebih’ ditebang untuk mengurangi produksi rempah sampai seperempat dari masa sebelum VOC-Belanda memegang kendali perdagangan atas Maluku.
Apa yang dilakukan oleh VOC-Belanda tersebut, yaitu memusnahkan atau eradikasi pohon-pohon cengkih di Kepulauan Maluku, disebut sebagai “Hongi Tochten”. Kesultanan Ternate sebenarnya telah terlebih dahulu mengadakan perjanjian yang berkenaan dengan “Hongi Tochten” pada tahun 1652 kemudian disusul oleh Tidore beberapa waktu berikutnya setelah Tidore mengakui kekuatan ekonomi-militer Belanda di Maluku. Pihak kesultanan menerima imbalan tertentu (recognitie penningen) dari pihak VOC akibat operasi ini. “Hongi Tochten” dilakukan akibat banyaknya penyelundup yang memasarkan cengkih ke Eropa sehingga harga cengkih menjadi turun drastis.
Sepeninggal Sultan Saifudin, Kesultanan Tidore semakin melemah. Banyaknya pertentangan dan pemberontakan di kalangan istana kesultanan menyebabkan Belanda dengan begitu mudah mencaplok sebagian besar wilayah Tidore. Hal ini mencapai puncaknya hingga pemerintahan Sultan Kamaluddin (1784-1797), dimana sejarawan mencatat bahwa sultan ini memiliki perangai yang kurang baik. Namun demikian lambat laun situasi mulai berubah ketika Tidore memiliki Sultan yang terbesar sepanjang sejarah mereka yaitu Sultan Nuku.
Pada tahun 1780, Nuku memproklamasikan dirinya sebagai Sultan Tidore dan menyatakan bahwa kesultanan-nya sebagai wilayah yang merdeka lepas dari kekuasaan VOC-Belanda. Kesultanan Tidore yang dimaksudkan olehnya meliputi semua wilayah Tidore yang utuh yaitu : Halmahera Tengah dan Timur, Makian, Kayoa, Kepulauan Raja Ampat, Papua Daratan, Seram Timur, Kepulauan Keffing, Geser, Seram Laut, Kepulauan Garang, Watubela dan Tor.
Setelah berjuang beberapa tahun, Sultan Nuku memperoleh kemenangan yang gemilang. Ia berhasil membebaskan Kesultanan Tidore dari kekuasaan Belanda dan mengembalikan pamornya. Penghujung abad ke-18 dan permulaan abad ke-19 adalah era keemasan Tidore di bawah Nuku. Pada titik ini, kebesaran Sultan Nuku dapat dibandingkan dengan keagungan Sultan Babullah yang telah mengusir Portugis dari Ternate.
Kemenangan-kemenangan yang diraih Sultan Nuku juga tidak lepas dari kondisi politik yang terjadi di negeri Belanda. Tahun 1794, Napoleon Bonaparte menyerbu Belanda yang mengakibatkan Raja Willem V mengungsi ke Inggris. Selama menetap di Inggris, ia mengeluarkan instruksi ke seluruh Gubernur Jenderal daerah jajahannya agar menyerahkan daerahnya ke Inggris supaya tidak jatuh ke tangan Perancis. Tahun 1796, Inggris menduduki. Ditambah dengan bubarnya VOC pada Desember 1799, maka hal ini semakin memperlemah kedudukan Belanda di Kepulauan Maluku.
Tetapi pada tanggal 14 November 1805, Tidore kehilangan seorang sultan yang pada masa hidupnya dikenal sebagai “Jou Barakati” atau di kalangan orang Inggris disapa dengan “Lord of Forrtune”. Wafatnya Sultan Nuku dalam usia 67 tahun tidak hanya membawa kesedihan bagi rakyat Malaku, tetapi juga memberikan kedukaan bagi rakyat Tobelo, Galela dan Lolada yang telah bergabung ke dalam barisan Nuku sejak awal perjuangannya.
Selain memiliki kecerdasan dan karisma yang kuat, Sultan Nuku terkenal akan keberanian dan kekuatan batinnya. Ia berhasil mentransformasi masa lalu Maluku yang kelam ke dalam era baru yang mampu memberikan kepadanya kemungkinan menyeluruh untuk bangkit dan melepaskan diri dari segala bentuk keterikatan, ketidakbebasan dan penindasan.
Berikut ini adalah nama-nama Kolano / Sultan dan tahun pemerintahannya pernah menjadi penguasa di Kerajaan Tidore yang saya olah dan susun dari beberapa sumber baik lokal maupun sumber asing yang menjadi referensi kajian saya, adalah sebagai berikut :
1.         (……… – ………) Kolano Sah Jati
2.         (……… – ………) Kolano Bosamuangi
3.         (……… – ………) Kolano Subu
4.         (……… – ………) Kolano Balibunga
5.         (……… – ………) Kolano Duku Madoya
6.         (1317  – ………) Kolano Kie Matiti
7.         (……… – ………) Kolano Sele
8.         (……… – ………) Kolano Metagena
9.         (1334   – 1372) Kolano Nur ud-din
10.       (1373 – ……) Kolano Hasan Syah
11.       (1495 – 1512) Sultan Ciriliati alias Jamal ud-din
12.       (1512 – 1526) Sultan Mansyur
13.       (1529 – 1547) Sultan Amir ud-din Iskandar Zulkarnain
14.       (1547 – 1569) Sultan Kie Mansyur
15.       (1569 – 1586) Sultan Miri Tadu Iskandar Sani Amir ul-Muzlimi, kawin dengan Boki Randan Gagalo, seorang puteri dari Sultan Babu’llah Datu Syah ibni Sultan Khair ul-Jamil.
16.       (1586 – 1599) Sultan Gapi Maguna alias Sultan Zainal Abidin Siraj ud-din alias Kaicil Siraj ul-Arafin, yang kawin dengan Boki Filola pada tahun 1585 seorang puteri dari sultan Ternate Sultan Said ud-din Barakat Syah ibni al-Marhum Sultan Babullah Datu Syah
17.       (1599 – 1626) Sultan Mole Majimu alias Molemgini Jamal ud-din alias ‘Ala ud-din Syah
18.       (1626 – 1633) Sultan Ngora Malamo alias Sultan ‘Ala ud-din ibni Sultan Jamal ud-din
19.       (1633 – 1653) Sultan Gorontalo alias Kaicil Sehe
20.       (1653 – 1657) Sultan Magiau alias Sultan Said ud-din ibni Sultan ‘Ala ud-din alias Kaicil Saidi
21.       (1657 – 1689) Sultan Syaif ud-din alias Kaicili Golofino
22.       (1689 – 1700) Sultan Hamzah Fakhr ud-din ibni al-Marhum Sultan Syaif ud-din
23.       (1700 – 1708) Sultan Abul Falal al-Mansyur
24.       (1708 – 1728) Sultan Hasan ud-din
25.       (1728 – 1756) Sultan Amir Muhid-din Bi-fallil-ajij alias Kaicil Bisalalihi
26.       (1756 – 1780) Sultan Jamal ud-din
27.       (1780 – 1784) Sultan Patra Alam
28.       (1784 – 1797) Sultan Kamal ud-din
29.       (1797 – 1805) Sultan Nuku alias Sultan Said-ul Jehad Muhammad al-Mabus Amir ud-din Syah alias Kaicil Paparangan alias Jou Barakati
30.       (1805 – 1810) Sultan Mohammad Zain al-Abidin
31.       (1810 – 1822) Sultan Mohammad Tahir (Wafat : 17 November 1821)
32.       (1822 – 1856) Sultan Akhmad-ul Mansyur (Dinobatkan 19 April 1822, wafat 11 Juli 1856)
33.       (1857 – 1865) Sultan Akhmad Safi ud-din alias Khalifat ul-Mukarram Sayid-din Kaulaini ila Jaabatil Tidore alias Jou Kota (Dinobatkan April 1857)
34.       (1867 – 1894) Sultan Johar Alam (Dinobatkan Agustus 1867)
35.       (1894 – 1905) Sultan Akhmad Kawi ud-din Alting alias Kaicil Syahjoan, (Dinobatkan Juli 1849) Pada masa ini Keraton Tidore dibumihanguskan sebagai sikap protes terhadap kebijakan pihak Belanda yang merugikan Tidore)
36.       (1947 – …….) Sultan Zain al-Abidin “Alting” Syah (Dinobatkan di Tidore pada tgl. 27 Perbruari 1947, bertepatan dengan tgl. 26 Rabiulawal 1366-H)
The Sultan with the Crown Royal of Tidore (Tolu Kolano)

37.       (Sekarang) Sultan Djafar “Dano Yunus” Syah, (Dinobatkan ————- hingga sekarang)
READMORE
 

Kesultanan Cirebon

Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuatnya menjadi pelabuhan dan "jembatan" antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.

1.     Sejarah

Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.
Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda:, air rebon) yang kemudian menjadi Cirebon.
Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

2.     Perkembangan awal

·         Ki Gedeng Tapa

Ki Gedeng Tapa (atau juga dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati) adalah seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati, Cirebon. Ia mulai membuka hutan ilalang dan membangun sebuah gubug dan sebuah tajug (Jalagrahan) pada tanggal 1 Syura 1358 (tahun Jawa) bertepatan dengan tahun 1445 Masehi. Sejak saat itu, mulailah para pendatang mulai menetap dan membentuk masyarakat baru di desa Caruban.

·         Ki Gedeng Alang-Alang

Kuwu atau kepala desa Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang. Sebagai Pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, yang tak lain adalah puteri dari Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana.

·         Masa Kesultanan Cirebon (Pakungwati)

a.      Pangeran Cakrabuana (…. –1479)

Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua bernama SubangLarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Nama kecilnya adalah Raden Walangsungsang, setelah remaja dikenal dengan nama Kian Santang. Ia mempunyai dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Lara Santang/ Syarifah Mudaim dan Raden Sangara.
Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh karena ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang - ibunya), sementara saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. Posisinya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istrinya yang ketiga Nyai Cantring Manikmayang.
Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan lalu mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai "raja" Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.

b.      Sunan Gunung Jati (1479-1568)

Pada tahun 1479 M, kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir, yakni Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.
Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Setelah Sunan Gunung Jati wafat, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon, Putra Pangeran Pasarean, cucu Sunan Gunung Jati. Namun, Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565.

c.       Fatahillah (1568-1570)

Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah, pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570, dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung

d.      Panembahan Ratu I (1570-1649)

Sepeninggal Fatahillah, oleh karena tidak ada calon lain yang layak menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Emas putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.

e.       Panembahan Ratu II (1649-1677)

Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.
Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.
Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kesultanan Mataram. Makamnya di Jogjakarta, di bukit Girilaya, dekat dengan makam raja raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul. Menurut beberapa sumber di Imogiri maupun Girilaya, tinggi makam Panembahan Girilaya adalah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri.

3.     Terpecahnya Kesultanan Cirebon

Dengan kematian Panembahan Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa. Sultan Ageng Tirtayasa segera menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo, yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram. Dengan bantuan Trunojoyo, maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan dan dibawa kembali ke Cirebon untuk kemudian juga dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon.

a.      Perpecahan I (1677)

Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:
  • Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)
  • Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723)
  • Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713).
Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para intelektual keraton. Dalam tradisi kesultanan di Cirebon, suksesi kekuasaan sejak tahun 1677 berlangsung sesuai dengan tradisi keraton, di mana seorang sultan akan menurunkan takhtanya kepada anak laki-laki tertua dari permaisurinya. Jika tidak ada, akan dicari cucu atau cicitnya. Jika terpaksa, maka orang lain yang dapat memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara.

b.      Perpecahan II (1807)

Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan.
Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811).

c.       Masa kolonial dan kemerdekaan

Sesudah kejadian tersebut, pemerintah Kolonial Belanda pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, dimana kekuasaan pemerintahan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan disahkannya Gemeente Cheirebon (Kota Cirebon), yang mencakup luas 1.100 Hektar, dengan penduduk sekitar 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.
Pada masa kemerdekaan, wilayah Kesultanan Cirebon menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara umum, wilayah Kesultanan Cirebon tercakup dalam Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, yang secara administratif masing-masing dipimpin oleh pejabat pemerintah Indonesia yaitu walikota dan bupati.

4.     Perkembangan terakhir

Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Kesultanan Cirebon tidak lagi merupakan pusat dari pemerintahan dan pengembangan agama Islam. Meskipun demikian keraton-keraton yang ada tetap menjalankan perannya sebagai pusat kebudayaan masyarakat khususnya di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Kesultanan Cirebon turut serta dalam berbagai upacara dan perayaan adat masyarakat dan telah beberapa kali ambil bagian dalam Festival Keraton Nusantara (FKN).
Umumnya, Keraton Kasepuhan sebagai istana Sultan Sepuh dianggap yang paling penting karena merupakan keraton tertua yang berdiri tahun 1529, sedangkan Keraton Kanoman sebagai istana Sultan Anom berdiri tahun 1622, dan yang terkemudian adalah Keraton Kacirebonan dan Keraton Kaprabonan.
Pada awal bulan Maret 2003, telah terjadi konflik internal di keraton Kanoman, antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dan Pangeran Elang Muhammad Saladin, untuk pengangkatan tahta Sultan Kanoman XII. Pelantikan kedua sultan ini diperkirakan menimbulkan perpecahan di kalangan kerabat keraton tersebut.
READMORE